Berita

FGD, Kampus Wajib Menggali Keluhuran dan Nilai Kearifan Lokal

Kampus berkewajiban mengembalikan jati diri bangsa melalui penggalian dan pemaknaan nilai-nilai luhur  kearifan lokal. Upaya ini perlu dilakukan untuk menguak makna substantif kearifan lokal, di mana kampus harus membuka kesadaran, kejujuran dan sejumlah nilai budaya luhur untuk sosialisasikan dan dikembangkan menjadi prinsip hidup yang bermartabat bagi masyarakat.

Hal tersebut diatas disampaikan Dr. Muh. Rusli, M.Fil.I, saat memberi sambutan pada acara pembukaan Forum Group Discussion (FGD) peneltiannya bersama Dr. Rahmawati, M.Ag yang berjudul “Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Prosesi Adat Molobungo Yiliyala (Menguburkan Placenta) Suku Gorontalo” Rabu, (25/10) yang bertempat di auditorium Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo.

Lebih lanjut Dr. Rusli  mengaskan, “Secara etimologis, kearifan (wisdom) berarti kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya untuk menyikapi sesuatu kejadian, obyek atau situasi. Sedangkan lokal, menunjukkan ruang interaksi di mana peristiwa atau situasi tersebut terjadi. Dengan demikian, kearifan lokal secara substansial merupakan nilai dan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang diyakini kebenarannya”

Hadir dalam FGD yang rencananya akan digelar selama dua hari tersebut menghadirkan Dewan Adat Propinsi Gorontalo; Karim Yahya, Qodi dan ulama masyhur propinsi Gorontalo; Rasyid Kamaru, M.Pd.I, Cendekiawan muslim lokal: Dr. Mashadi, M.Si dan Dr. Andries Kango, M.Ag, Akademisi; Dr. Mukrimin, beberapa bidan kampung serta beberapa unsur civitas akademika di lingkungan IAIN Sultan Amai Gorontalo.

FGD merupakan bagian dari metode penelitian kualitatif dilaksanakan untuk mengungkap secara mendalam apa yang sedang diteliti. FGD dikenal luas karena kelebihannya dalam memberikan kemudahan dan peluang bagi peneliti untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami persepsi, sikap, serta pengalaman yang dimiliki informan.

Bagikan ke: